readbud - get paid to read and rate articles

Rabu, 06 Januari 2021

Takdir Bukanlah Suatu Kesalahan

images : https://darunnajah.com/wp-content/uploads/2018/11/Iman_Kepada_Takdir_Allah_Taala.jpg
 
Menatap langit penuh mendung, menggulung, menghitam 
Hujan segera datang kawan 
Rasakanlah angin dingin yang mulai menyeruak 
Berhembus pelan, kencang, pelan, melalui sela-sela rambut di belakang telingamu 
Seakan hendak membisikkan sesuatu yang mistis 
Kedalam telinga telinga acuh kita 
Telinga yang telah kotor oleh debu-debu kesombongan dan keangkuhan diri 

Hai manusia-manusia yang sombong 
Lihatlah titik-titik air yang mulai kubawa turun membasahi bumi 
Meski kau berteduh tuk hindari, aku akan mencari celah tuk terus memburumu 
Menyapu kepala-kepala hitammu yang penuh congkak 
Agar kau sadar apa arti sebuah perjalanan 

Sombonglah kau dengan daya upayamu 
Dengan pengetahuan dan pengalaman yang kau peroleh 
Tanpa sadar itu hanyalah setitik kecil dalam hamparan langit luas 
Air ini akan terus mengalir menuju laut lepas 
Meski kau halangi dengan tipu muslihatmu 

Kau bangun sungai-sungai 
Kau keruk waduk-waduk 
Bendungan dan telaga-telaga 
Berharap ia kan berhenti mengalir dan menuruti keinginan dan hawa nafsumu 
Tetapi ia kan tetap menemukan jalannya 
Jalan yang telah ditakdirkan untuknya 

Takdir bukanlah suatu kesalahan 
Mereka hanya berbelok, menukik, menyelam, dan kembali muncul 
Untuk menuju tujuan akhirnya 
Janganlah kau mengira kau telah membengkokkan takdir yang tertulis 
Karena takdir bisa menemukan jalannya sendiri 

Akal budimu tak kan mampu memaknai takdir 
Apapun itu Sesuatu yang kau kira mampu kau rubah 
Nyatanya semua telah tertulis Karena ia tau apa yang hendak kau lakukan padanya 
Kemarin, hari ini, dan kelak 

Takdir bukanlah suatu kesalahan 
Ia memiliki seribu jalan 
Untuk memenuhi tujuannya

Selengkapnya...

Sabtu, 13 Februari 2010

Garis Kehidupan


Seperti halnya seutas tali yang tergantung di dahan pohon
Ujungnya menjuntai
Panjang terurai hingga menyentuh tanah
Tiap tali memiliki panjangnya sendiri
Tetapi mereka sama….
Akan menyentuh tanah jua
Tempat semua kan kembali


Kadang angin kan terpa mereka
Hingga tak kan bisa lurus
Bergoyang, menggeliat-geliat bak cacing kepanasan

Kadang hujan kan mendera
Hingga basah kuyup
Seperti air mata ibu yang menangisi kepergian anaknya

Kadang mentari kan membakarnya hingga mengeras, kusam dan akhirnya lapuk
Ada yang bertahan
Ada yang putus di tengah jalan
Itulah garis kehidupan

Selengkapnya...

Tak Mau

Apalah arti keberadaan manusia bila ia hanya diciptakan hanya untuk sendirian
Bahkan batu pun mengerti akan arti kesepian
Ketika mata memandang eloknya siang, ia akan merindukan saat malam tiba jua
Pepohonan selalu melambaikan ranting-rantingnya agar angin bisa berhembus menerpa daun-daunnya
Agar tidak sendiri…
Selama dunia masih ada
Manusia tak pernah ingin sendiri

Selengkapnya...

Kering Sudah


Ketika aku telah benar-benar memutuskan untuk mencintaimu
Ketika hati ini telah benar-benar terpaut oleh cintamu
Dirimu perlahan-lahan menjauh dan menjauh
Membuat setiap harapan yang ada di diriku
Hilang secuil demi secuil.
Dan pada akhirnya yang tersisa hanyalah puing-puing kehancuran hati
Rasa sakit dan penderitaan yang tertahan
Air mata pun tak sanggup lagi tuk turun membasahi pipi
Karena ia telah kering bak wadi di musim panas
Adakah lagi penyemangat dalam hidup
Karena ia kini telah benar-benar hampa
Seperti daun kering merana tercampakkan, tertiup angin
Tergilas hingga hancur hingga menjadi santapan cacing tanah
Pada akhirnya semuanya sia-sia.

Selengkapnya...

Rabu, 27 Januari 2010

Aku Rindu PadaMu

Dada ini semakin terasa sesak
Menahan rasa yang tak pernah bisa terungkap
Bukan karena apa
Hanya kebisuan semata

Jika waktu bisa berjalan lebih cepat
Atau mungkin berlari
Tergesa-gesa...
Seperti kuda penarik kereta perang
Hendak mengakhiri perang yang berkecamuk
Agar cepat usai
dan akhirnya datang kedamaian kembali

Oh, Tuhanku
Mungkin aku adalah insan paling berdosa
Tapi lalai dan enggan meminta maaf
Selalu mengulangi dosa dan dosa
Hingga tertutup mata hatiku
Terlambat ketika azab telah benar-benar datang
Menghampiri dan siap menerkam
Meremukkan apa yang ada
Hingga asa hampir tak ada lagi

Oh, Tuhan
Mungkin ini bukti kasih sayangMu padaku
Kau ada ketika aku ingat
Tetapi Kau juga ada meski ku lupa

Harus ku akui
Bahwa memang Kau Yang Maha Kuasa
Berkuasa atas diriku dan segalanya
Berlutut aku di kakimu
Bersimpuh, menghiba dan berdoa
Semoga Kau selalu bersamaku
Dalam suka dan dukaku
Meski perih kurasa dunia ini
Tapi kupercaya
Kau selalu ada untukku

Oh, Tuhan
Aku rindu padaMu

Selengkapnya...

Senin, 25 Januari 2010

Adakah harapan Itu?


Adakah harapan itu?
Ketika semua telah sirna
Musnah tak bersisa
Terpejam, hitam dan menghilang

Waktu terus mengikis dinding hati yang telah rapuh
Semakin pupus, tergradasi...
Meredup bagai lampu kehabisan minyak
Pada akhirnya
Mati...
Meninggalkan bara kecil dan asap yang mengepul
Penuh aroma duka
Rasa perih penderitaan
Penderitaan terpendam
Tapi tak pernah seorang pun tau

Selengkapnya...

Padam

Ketika rongga dada semakin kosong
Hampa
Hingga gema suara jeritan hati memantul di dindingnya
Bergetar, menggema...
Meruntuhkan setiap keping kenangan
Harapan...
Semakin terasa jauh
Sulit tuk diraih
Tak ada lagi semangat
Karena api telah padam oleh dinginnya keadaan
Membeku...
Sendiri dan kesepian

Selengkapnya...