Poem of Nothingless
Kumpulan puisi tiada arti.....
Rabu, 06 Januari 2021
Takdir Bukanlah Suatu Kesalahan
Sabtu, 13 Februari 2010
Garis Kehidupan
Seperti halnya seutas tali yang tergantung di dahan pohon
Ujungnya menjuntai
Panjang terurai hingga menyentuh tanah
Tiap tali memiliki panjangnya sendiri
Tetapi mereka sama….
Akan menyentuh tanah jua
Tempat semua kan kembali
Kadang angin kan terpa mereka
Hingga tak kan bisa lurus
Bergoyang, menggeliat-geliat bak cacing kepanasan
Kadang hujan kan mendera
Hingga basah kuyup
Seperti air mata ibu yang menangisi kepergian anaknya
Kadang mentari kan membakarnya hingga mengeras, kusam dan akhirnya lapuk
Ada yang bertahan
Ada yang putus di tengah jalan
Itulah garis kehidupan
Tak Mau
Apalah arti keberadaan manusia bila ia hanya diciptakan hanya untuk sendirian
Bahkan batu pun mengerti akan arti kesepian
Ketika mata memandang eloknya siang, ia akan merindukan saat malam tiba jua
Pepohonan selalu melambaikan ranting-rantingnya agar angin bisa berhembus menerpa daun-daunnya
Agar tidak sendiri…
Selama dunia masih ada
Manusia tak pernah ingin sendiri
Kering Sudah
Ketika aku telah benar-benar memutuskan untuk mencintaimu
Ketika hati ini telah benar-benar terpaut oleh cintamu
Dirimu perlahan-lahan menjauh dan menjauh
Membuat setiap harapan yang ada di diriku
Hilang secuil demi secuil.
Dan pada akhirnya yang tersisa hanyalah puing-puing kehancuran hati
Rasa sakit dan penderitaan yang tertahan
Air mata pun tak sanggup lagi tuk turun membasahi pipi
Karena ia telah kering bak wadi di musim panas
Adakah lagi penyemangat dalam hidup
Karena ia kini telah benar-benar hampa
Seperti daun kering merana tercampakkan, tertiup angin
Tergilas hingga hancur hingga menjadi santapan cacing tanah
Pada akhirnya semuanya sia-sia.
Rabu, 27 Januari 2010
Aku Rindu PadaMu
Dada ini semakin terasa sesak
Menahan rasa yang tak pernah bisa terungkap
Bukan karena apa
Hanya kebisuan semata
Jika waktu bisa berjalan lebih cepat
Atau mungkin berlari
Tergesa-gesa...
Seperti kuda penarik kereta perang
Hendak mengakhiri perang yang berkecamuk
Agar cepat usai
dan akhirnya datang kedamaian kembali
Oh, Tuhanku
Mungkin aku adalah insan paling berdosa
Tapi lalai dan enggan meminta maaf
Selalu mengulangi dosa dan dosa
Hingga tertutup mata hatiku
Terlambat ketika azab telah benar-benar datang
Menghampiri dan siap menerkam
Meremukkan apa yang ada
Hingga asa hampir tak ada lagi
Oh, Tuhan
Mungkin ini bukti kasih sayangMu padaku
Kau ada ketika aku ingat
Tetapi Kau juga ada meski ku lupa
Harus ku akui
Bahwa memang Kau Yang Maha Kuasa
Berkuasa atas diriku dan segalanya
Berlutut aku di kakimu
Bersimpuh, menghiba dan berdoa
Semoga Kau selalu bersamaku
Dalam suka dan dukaku
Meski perih kurasa dunia ini
Tapi kupercaya
Kau selalu ada untukku
Oh, Tuhan
Aku rindu padaMu
Senin, 25 Januari 2010
Adakah harapan Itu?
Adakah harapan itu?
Ketika semua telah sirna
Musnah tak bersisa
Terpejam, hitam dan menghilang
Waktu terus mengikis dinding hati yang telah rapuh
Semakin pupus, tergradasi...
Meredup bagai lampu kehabisan minyak
Pada akhirnya
Mati...
Meninggalkan bara kecil dan asap yang mengepul
Penuh aroma duka
Rasa perih penderitaan
Penderitaan terpendam
Tapi tak pernah seorang pun tau
Padam
Ketika rongga dada semakin kosong
Hampa
Hingga gema suara jeritan hati memantul di dindingnya
Bergetar, menggema...
Meruntuhkan setiap keping kenangan
Harapan...
Semakin terasa jauh
Sulit tuk diraih
Tak ada lagi semangat
Karena api telah padam oleh dinginnya keadaan
Membeku...
Sendiri dan kesepian

- Harapan (10)
- Inspirasi (1)
- Kehancuran Jiwa (11)
- Kepasrahan (8)
- Kerinduan (3)
- Mimpi (4)
- Penantian (5)
- Penghianatan (4)
- Renungan (1)
- Special Moment (2)
- Syukur (1)
.jpg)
- Pendekar 212
- Jombang, Jawa Timur, Indonesia
- Tidak banyak yang bisa saya uraikan di sini. Silahkan lihat profil saya di facebook. bsantosagung@gmail.com
